Archive for August, 2008

Gelorakan Semangat Meraikan Ramadhan

Kutiplah pelajaran dari kuda yang berlari kencang. Lihatlah semangat dan ketaatannya kepada tuannya

Kutiplah pelajaran dari kuda yang berlari kencang. Lihatlah semangat dan ketaatannya kepada tuannya

Allah swt berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah-Ku.” Adz Dzariat:56. Ya, inilah tujuan diciptakan setiap manusia. Yaitu, melaksanakan tugas ibadah hanya pada Allah swt. saja. Menyembah Tuhan, Pencipta langit tujuh tanpa atap.   

               Pencipta manusia dengan struktur unik. Pembuat alam raya untuk manusia. Manusia dijadikan saling membantu, memimpin, memerintah dan melayani sepanjang masa. Semua itu, adalah dalam rangka mewujudkan tujuan besar ini. Karena itu, ibadah kepada Allah swt. Memerlukan semangat yang menggelora, dan kesungguhan yang hebat sesuai dengan tujuan besar ini.

 Semangat Menggelora…. Kenapa?

Kenapa diperlukan semangat yang menggelora untuk beribadah kepada Allah swt.?

1. Pertama, karena beribadah dengan menjalankan kewajiban-kewajiban syari’ah adalah amanah besar, yang justeru langit, bumi dan gunung enggan menerima amanah besar ini.

“Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” Al Ahzab: 72.

Semangat menggelora boleh jadi mampu menundukkan tinggi dan luasnya langit. Mengalahkan tegarnya gunung. Mengalahkan hamparan bumi.

 2. Kedua, karena ibadah lebih luas dari sekedar rukun Islam dan sebagian syi’ar Islam yang biasa. Oleh karena itu, mustahil bagi Allah swt. hanya menciptkan makhluk dan mengutus kepada mereka para Rasul. Allah swt. membinasakan suatu kaum dan mengangkat nasib sebagian yang lain. Allah swt. menciptkan surga dan neraka sebagai balasan. Panji-panji dikibarkan untuk mewujudkan peribadatan.

Seluruh makhluk ditundukkan untuk manusia. Itu semua dalam rangka meletakkan rekaat shalat dan shaum Ramadhan saja. Tidak, makna ibadah lebih luas dan lebih menyeluruh dari itu semua. Ibadah itu, sebagaimana yang dikenalkan syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah rahimahullah:

Setiap istilah yang menyeluruh, terkait setiap yang dicintai Allah dan diridhoi-Nya, baik bentuk ucapan, perbuatan, yang nyata atau yang tersembunyi.”

Karena itu, setiap usaha mendamaikan antara dua orang adalah ibadah. Membiayai anak yatim atau mengelus kepala mereka adalah sama-sama ibadah. Memberi nasihat adalah ibadah. Membuang sampah pada tempatnya atau menyingkirkan duri dari jalan adalah ibadah. Tidak menyakiti haiwan adalah ibadah. Mendidik anak sesuai dengan syari’ah Allah adalah ibadah. Suatu yang boleh akan menjadi bernilai ibadah dengan niat yang benar dan baik. Maka mahasiswa yang study dengan sungguh-sungguh untuk khidmat umat muslim adalah ibadah. Profesional atau pekerja yang sungguh-sungguh mencari rezeki halal adalah ibadah. Bekerja untuk memenuhi keperluan keluarga, berderma untuk diri dan orang lain adalah ibadah.

Jika makna dan kandungan ibadah begitu luas, maka sudah tentu melaksanakan ibadah itu memerlukan semangat menggelora, sebanding dengan luasnya makna dan kandungan ibadah itu sendiri.

 3. Ketiga, banyaknya rintangan, halangan dan kesibukan. Baik dari internal maupun dari eksternal manusia. Kerana itu, jiwa yang cenderung bermalasan dan berehat-rehat tidak mungkin mampu melaksanakan kewajiban ibadah yang sangat luas ini. Apa lagi, ada syaitan yang sentiasa menyelewengkan manusia dari jalur ibadah. Ada juga lingkungan yang mempengaruhinya, himpitan ekonomi dan masalah sosial. Begitu juga dengan godaan-godaan dan rayuan-rayuan yang melenakan.

Dari itu, tidak mungkin tidak, harus ada semangat yang menggelora dan kesungguhan yang kuat.

 Apa Itu Semangat Menggelora?

Semangat menggelora tidak hanya diertikan menyuburkan potensi untuk bekerja atau beribadah. Ini salah satu ruang lingkup semangat menggelora. Ada bentuk lain, di antaranya:

1. Pertama, berusaha melaksanakan amal shaleh dan konsisten melaksanakannya, meskipun hanya sedikit. Rasulullah saw. bersabda,

“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang berkesinambungan meskipun sedikit.” Hadis disahihkan Al Albani.

Kesinambungan dalam beramal meskipun sedikit menunjukkan adanya semangat menggelora bagi pelakunya. Karena tabiat jiwa bosan dengan aktiviti rutin dan lebih cenderung memilih perubahan. Karena itu, Rasulullah saw. bersabda kepada Abdullah bin Amr ra. “Wahai Abdullah, kamu jangan seperti fulan. Ia melaksanakan qiyamullail, kemudian meninggalkannya.” Muttafaqun ‘alaih. Seakan-akan Rasulullah saw. mencela orang yang meninggalkan amal setelah sebelumnya sudah terbiasa melaksanakannya.

 

2. Kedua, itqanul ibadah. Ibadah dengan maksimal. Tentu ini memerlukan semangat menggelora. Contohnya, ada orang yang solat satu rakaat dengan baca sepertiga juz. Namun susah untuk mentadabburi makna yang dibacanya, padahal jika ia mampu memahami kandungan ayat yang dibacanya, ia mampu lebih lama lagi membaca ayat dalam solat tanpa rasa letih.

Begitu juga shaum, banyak orang yang bisa menaham makan, minum, dan hubungan biologi, namun sangat sulit mengendalikan lisannya dari ghibah, menaham pandangannya dari melihat yang haram. Dari dua contoh ini, menunjukkan bahwa pelaku ibadah belum mampu melaksanakan ibadah dengan baik dan sempurna.

Ketiga, menjaga ibadah pada saat-saat malas atau futur. Dalam kondisi seperti ini memerlukan semangat menggelora. Karena futur adalah sifat manusiawi dan tabiat wajar. Rasulullah saw. bersabda,

 “Setiap amal ada jeleknya. Dan setiap kejelekan amal adalah futur.” Disahihkan Al Albani.

Pada saat futur sangat memerlukan kesungguhan dan semangat kembali.

Keempat, melaksanakan ibadah dengan memperhatikan kewajiban-kewajiban yang lain. Ini tentu memerlukan kesungguhan dan semangat menggelora. Bahwa hak-hak dan kewajiban-kewajiban sangatlah banyak. Apalagi ia seorang pekerja, pelajar dan pengusaha…, maka: adakalanya ia kurang dalam hak suatu ibadah, karena ingin mengejar hak ibadah yang lain.. Atau ia memiliki semangat yang mampu menggabungkan antara dua hal ini. Lebih lagi, jika ia mengetahui bagaimana caranya mensikapi suatu ibadah; sehingga bisa bernilai mubah, ibadah dan berpahala.

7 Semangat Ramdhan

1. Meninggalkan dosa dan maksiat

2. Berkawan dengan orang yang mempunyai semangat tinggi dan kesungguhan

3. Yakin dengan kemampuan diri sendiri

4. Menulis target yang ingin dicapai di bulan Ramadhan

Mengurangkan makan, shopping dan tidur kerana kepenatan

Allahua’lam.

Comments (1) »

Kesegaran

Apa khabar teman-teman semua? Sihat kah antunna? Alhamdulillah, tengahari tadi ana dapat berita baik tentang Maryam. Maryam semakin sembuh dari serangan Denggi. Subhanallah. Hurm…dalam sibuk-sibuk ana mencari bahan untuk pengisian buku program safar esok, ana terjumpa catatan seorang pengembara Mukmin di bumi Kangaroo. Subhanallah, tulisannya sangat baik. Sangat baik untuk dikongsi dan diamalkan bersama….

 

Pernahkan kita mencari jalan untuk menguruskan keutuhan ukhuwwah?

Pernahkan kita mencari jalan untuk menguruskan keutuhan ukhuwwah?

 

Semalam sempat dibuat surprise untuk sahabat kami yang bakal pulang for good. Surprise yang bukan lagi surprise sebab ada yang tidak sengaja telah terbocorkan pakatan rahsia kami…

Sayu malam itu hanya disimpan di dalam dada…Jika ‘muda-muda’ dulu mudah sungguh air mata mengalir bila sahabat-sahabat mahu pulang ke Malaysia. Sedih…Sedih atas ‘perpisahan’. Memanglah sedih jika ikatan ukhuwwah diukur atas ikatan tanah. Bila terasing, terasa berpisah…Bila tiada di hadapan mata, terasa gundah… 

Tapi bila dah ‘tua’ begini, barulah faham erti ikatan ukhuwwah fillah; yang mengikatnya adalah Allah…yang mengikatnya adalah risalah. Tak akan terpisah selagimana sahabat kita bersama-sama dengan Allah, bersama-sama dengan risalah…

  Malah hati redha melepaskan seorang pejuang pergi. Hijrah sahabat kami itu akan membawa rahmat buat bumi tercinta Malaysia; pulangnya seorang da’ie rabbani yang diharap boleh merawat ummat yang tenat…Sekarang ada pula penyakit baru, mahu jemput Avril Lavigne buat konsert. Entah mana pergi semangat mahu sambut Ramadhan…(atau sekurang-kurangnya) mana pergi semangat patriotisme?

  Topik kali ini bukan pasal ummat, tapi pasal ’kita’. Bukan bermaksud hendak menjadi selfish, tapi jika doktor pun masih tidak betul, macam mana mahu merawat pesakit?

  Entah mengapa, semenjak dua menjak ini, perkataan ukhuwwah sangat terkesan di minda dan hati saya. Sebelum ini, saya rasa saya arif tentang ukhuwwah…Kononnya bila dah makin besar…maka, dah makin matang, dah makin faham…tidak ada lagi masalah ukhuwwah… Malah dah boleh mengajar orang lain tentang apa itu ukhuwwah dan sudah pandai menasihat orang yang bermasalah ukhuwwah.   Tapi apabila teruji dalam ukhuwwah, mengapa saya boleh fail?

  Semalam sahabat yang bakal pulang itu menyampaikan pesan kepada semua (lebih kurang begini): ”Syaitan akan sentiasa mencari ruang untuk merosakkan ukhuwwah sesama kita…” kerana ukhuwwah adalah titik kekuatan kita. Semua musuh islam (syaitan dan manusia) sangat-sangat beriman dengan hakikat ini…Bagaimana kita?

Kadang-kadang kita tertipu dengan keramaian. Kita tafsir ukhuwwah fillah dengan tahap keramahan dan keramaian kita. Makin ramah, makin ramai sahabat, hubungan baik…maka, itulah ukhuwwah fillah. Tapi sebenarnya sejauhmana hati-hati telah benar-benar diikat dengan tali Allah? Lapang dada kita…ithar kita…budaya ta’awun (tolong menolong)…tanassuh (nasihat-menasihati)…tarahum…Sudah cukupkah? Sudah terbuktikah?

 Bila sudah tersadung, baru terngadah. Memang ujian adalah rahmat, agar manusia kembali ingat dan membuat muhasabah. Perlu semak balik ukhuwwah yang dihulur, jangan jadi ghurur…jangan jadi mangsa tipu daya syaitan…

  Baju sahabat yang belum berbasuh, berapa ramai yang ringan tulang tolong cucikan?

  Bila sahabat datang ke rumah, berapa ramai yang melayan bersungguh-sungguh? Atau sekadar buka pintu, kemudian lari masuk ke bilik masing-masing…

Bila datang ke rumah sahabat, melihat pinggan mangkuk kotor di sinki, berapa ramai yang tolong basuhkan? Atau kita sendiri makan dan menambah bilangan pinggan kotor di sinki?

Bila sahabat bertandang, berapa ramai yang menghulurkan tangan untuk bersalam? Atau kita buat dono, teruskan membaca al Quran atau menghadap laptop…

  Bila sahabat minta tolong, berapa ramai yang menghulurkan?

  Bila sahabat pulang ke rumah dari universiti atau hospital, berapa ramai yang bertanya khabar dan perasaan dia? etc…

  Bila ukhuwwah masih belum settle, bagaimana mahu bicara tentang negara…tentang khilafah…tentang ustaziyatul ’alam? Tidak tertegak negara islam Madinah tanpa persaudaraan Ansar dan Muhajirin. Nabi sedar kepentingan hakikat ukhuwwah fillah ini.

  Alasan-alasan, “tidak ada masa”, “banyak priority lain”, “tak apa, dia adalah orang yang faham” patut dielakkan. Bagaimana mahu bina rumah jika salah satu batu asasnya tidak diletakkan terlebih dahulu? Malah, ini namanya melewatkan masa dan membazir masa…

  “Tidak beriman seseorang sehingga dia mengasihi saudaranya sepertimana dia mengasihi dirinya sendiri”

  Virus boleh menyerang bila body defence jadi lemah. Body defence di sini adalah iman. Iman dan ukhuwwah sangat berkait rapat; yang satu melahirkan yang satu lagi. Jika iman tidak dijaga, maka mudahlah syaitan dan musuh menyerang. Akhirnya, ukhuwwah kita dijangkiti virus; untuk mengubatinya akan ambil masa pula…boleh jadi setahun dua.

  Ukhuwwah adalah apa yang dihulur, bukan apa yang diterima. Tidak dituntut untuk kita measure tahap ukhuwwah orang kepada kita, tapi semak balik apa yang kita telah hulur kepada orang. Daripada mengatakan: “DIA masih belum buat begitu dan begini…”, katakanlah “AKU masih belum buat begitu dan begini…”

 

Comments (2) »

Jika Dah Tahu, Buatlah!!

Jadilah Panglima Islam akhir zaman

Jadilah Panglima Islam akhir zaman

 

Wahai diriku.…

Mari tatap dalam-dalam dan bertanyalah siapa kamu? Maka di sana akan terlihat seluruh kelemahan yang ada. Balil insanu ‘ala nafsihi bashirah.

Diriku…, bercerminlah kepada seorang sahabat: Handzalah bin Rabi’ Al-Usaidi r.a. Ia salah satu penulis wahyu yang dengan segala kesadaran dirinya sendiri mengatakan, ”Nafaqo Handzalah, telah munafik Handzalah.”

Diriku…, apa yang terjadi pada diri Handzalah sampai-sampai menegur dirinya sendiri seperti itu? Padahal beliau sangat dekat dengan Rasullullah. Jawabnya tak lain adalah kejujuran diri. Handzalah merasa iman yang dimilikinya terasa kuat ketika berada di dekat Rasulullah saw. Seakan ia menatap surga dan neraka dengan kedua matanya. Namun ketika kembali sibuk dengan keluarganya, dengan aktivitas duniawinya, ia merasakan kondisi dirinya sangat berubah.

Diriku…, dengan kata apa kau harus mengungkapkan kondisimu? Seperti ungkapan Handzalah kah? Atau lebih dari itu? Atau lebih buruk? Ya Allah, ampunilah hambamu ini.

Wahai diriku….

Bukankah kamu juga telah mengenal siapa dirimu? Yang lebih banyak sibuk dengan dunia? Diri yang lemah dalam beribadah, diri yang merasa berat berkorban untuk taat? Diri yang banyak bicara sedikit kerja? Lalu apakah kamu masih terus melakukan itu padahal Allah swt. telah menegurmu: ”Aradhitum bil hayatiddunya minal akhirah, apakah kalian lebih cinta dunia dibanding akhirat?” Astagfirullah!

Diriku…, jika kamu telah tahu segala kekuatan dan kelemahanmu, lalu apa yang akan kau lakukan? Memperbaikinya? Atau, sebaliknya?

Bercerminlah, wahai diriku, kepada sahabat Huzaifah r.a. kala menjawab pertanyaan Rasulullah saw., “Bagaimana kondisimu hari ini, wahai Hudzaifah?” Dengan percaya diri ia menjawab, ”Alhamdulillah, ya Rasulullah, saat ini aku menjadi seorang mukmin yang kuat iman.” Rasulullah saw. bertanya kembali, “Hai Huzaifah, sungguh segala sesuatu itu ada buktinya. Maka apa bukti dari pernyataanmu itu?”

Jawab Huzaifah r.a., ”Ya Rasulullah, tidak suatu pagi pun yang aku hidup padanya dan aku berharap untuk sampai pada petang hari; dan tiada satu petang pun yang aku hidup padanya dan aku berharap untuk hidup sampai pagi hari, melainkan aku melihat dengan jelas di depan mataku surga yang penduduknya bercanda ria menikmati keindahannya dan aku melihat neraka dengan penghuninya yang berteriak menjerit kerasukan merasakan dahsyatnya siksa.”

Diriku….

Adakah kau merindukan syurga sehingga gelora semangatmu membahana memenuhi jiwamu, tergerak seluruh kesedaranmu untuk bermujahadah dan berjihad meraih ridha-Nya? Dan apakah kamu takut dan yakin akan dahsyatnya siksa neraka sehingga tak satu pun sel tubuh ini kecuali berupaya terlindungi dari sengatannya pada hari pembalasan nanti?

Diriku….

Jika kamu telah mengetahui segala kelemahan yang ada , lalu kamu tidak segara membaikinya, maka ketahuilah kamu termasuk orang-orang yang merugi! Begitu pula ketika kamu telah mengetahui kekuatanmu dan kamu tidak bisa mempertahankannya, maka kamu pun termasuk orang yang merugi!

Karena itu….

Perbaiki, jaga, dan tumbuh suburkan kekuatan itu agar amal shaleh, ketaatan, dan dakwah tetap terjaga.

 

Sedutan dari dakwatuna.com

Leave a comment »

Preparing For Ramadhan

    

      Today is 22nd Shaban,means that about one week left for Ramadhan.Have we prepare for that Holy month?How to prepare?Here are some good tips for those who want to be more prepared.A reminder for myself as well.

1 )   Prepare a Personal Action Plan-what are you aims and desired achievements for this month?Set specific targets and plan your time wisely. e.g planning to do more nafil prayer, qiyammulail, sadaqah, reciting Quran etc.

 

2 )   Evaluate yourself each day before going to bed. How can you improve yourself? What good deeds can be repeated? What bad deeds should be avoided?

 

3 )   Make a personal duaa list-include everything!Small and big, this world and the Hereafter.

 

4 )   Ensure that you have made up for any missed fasts from the previous Ramadhan (especially muslimah  J )

 

5 )   Train yourself to go bed early to avoid missing Fajr prayers.And to train you to qiyam in Ramadhan as well.

 

6 )   Buy all necessities to avoid wasting precious time during the month.(NOT baju raya ya!)

 

7 )   Read more,listen more for inspiration and motivation (Islamic Books and Audio )

 

8 )   Technology diet!-(the hardest one I think J )-less TV,internet and unnecessary phone calls-less distraction!More Quran,Prayers,Zikr and Charity.

 

9 )   Plan da’wah activities in your community-(halaqat/usrah)-

 

InshaAllah,hope we all got benefit from those tips and willing to try our best,preparing for Ramadhan.

 

“Allahumma baariklana fii Rajab wa Sha’baan wa balighna Ramadhan “

O Allah,bless us in Rajab and Sha’baan and grace us to witness Ramadhan!

 

Wallahu alam

Comments (8) »